Polda Jabar membongkar jaringan narkoba lintas negara. Ini bukan sekadar penangkapan, melainkan sinyal bahaya bahwa Jawa Barat kini menjadi medan pertempuran bagi kartel narkoba internasional.
Nama “Golden Triangle” (Segitiga Emas) dan “Golden Crescent” (Bulan Sabit Emas) mungkin terdengar seperti judul film laga di telinga orang awam. Namun, bagi aparat penegak hukum, dua nama itu adalah sinonim dari monster bisnis haram bernilai triliunan rupiah yang berpusat di Asia. Dan kini, monster itu telah menancapkan kukunya di tanah Pasundan.
Pengungkapan yang dilakukan Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jawa Barat baru-baru ini bukanlah sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah sebuah pengesahan yang mengerikan: Jawa Barat telah menjadi salah satu pasar utama dan arena permainan bagi kartel narkoba kelas dunia.
Dalam operasi senyapnya, tim penyidik berhasil memutus satu mata rantai distribusi penting, menangkap tiga tersangka berinisial AA, M, dan H. Di tangan mereka, ditemukan barang bukti yang cukup untuk meracuni satu kota: dua kilogram sabu-sabu kualitas tinggi dan 5.000 butir pil ekstasi. Namun, yang membuat pengungkapan ini lebih dari sekadar angka adalah jejak asal-usul barang haram tersebut.
“Jaringan ini terafiliasi langsung dengan sindikat Golden Triangle dan Golden Crescent,” tegas Direktur Resnarkoba Polda Jabar, Kombes Pol Arifien Firmansyah.
Pernyataan ini mengubah segalanya. Ini berarti sabu yang mungkin beredar di gang-gang sempit Bandung atau Cimahi tidak lagi diproduksi di laboratorium rumahan. Ia adalah produk impor, bagian dari rantai pasok global yang rumit dan mematikan, yang membentang dari ladang-ladang opium di Afghanistan hingga pabrik-pabrik sabu raksasa di Myanmar.
Dari Kurir Jalanan ke Operator Global
Penangkapan tiga tersangka ini ibarat memotong ujung dari tentakel gurita raksasa. AA, M, dan H hanyalah pion di garda depan. Di belakang mereka, berdiri sebuah struktur organisasi kriminal yang rapi, kaya, dan kejam. Mereka adalah operator logistik yang memastikan narkotika senilai miliaran rupiah itu lolos dari pengawasan, masuk ke Indonesia, dan siap diedarkan.
Ini adalah sebuah sinyal bahaya. Jawa Barat, dengan populasi padat dan dinamika ekonominya, dipandang sebagai “pasar basah” yang sangat menggiurkan. Permintaan yang tinggi menjadi magnet bagi para pemasok internasional ini untuk terus mencoba menembus pertahanan aparat.
Keberhasilan Polda Jabar kali ini patut diapresiasi, namun ia juga sekaligus menjadi pengingat yang getir. Pertarungan melawan narkoba bukan lagi hanya soal menangkap pemakai atau pengedar kelas teri. Musuh yang dihadapi kini jauh lebih besar, lebih terorganisir, dan memiliki sumber daya nyaris tak terbatas.
Pengungkapan ini adalah bukti bahwa perang melawan narkoba telah memasuki babak baru. Pertarungan ini bukan lagi di perbatasan negara, tetapi sudah terjadi di halaman belakang rumah kita. Dan setiap paket sabu yang disita adalah kemenangan kecil dalam pertempuran besar yang masih sangat panjang.